AKHLAK DALAM ILMU


AKHLAK DALAM ILMU

Oleh Ihsan Helmi Jauhari

 

Berbicara mengenai ilmu dan akhlak tentunya ini merupakan pembahasan yang begitu detail dan kompleks. Bahkan kitab-kitab yang mengkaji akhlak dan ilmu begitu banyak ratusan kitab-kitab baik dari para alim ulama klasik maupun para ulama kontemporer termasuk para cendikiawan muslim. Tetapi disini, penulis hanya lebih menyajikannya secara global atau umum saja dikarenakan masih fakirnya penulis yang memang perlu belajar lagi.

1.    Definisi Ilmu dan Akhlak

1.1  Ilmu

Secara etimologis, kata ilmu berasal Bahasa Arab, yaitu علم yang artinya mengetahui hakekat sesuatu dengan sebanar-benarnya. Kata علم merupakan bentuk masdar dari pecahan kata kerja عالم yang berarti tahu. Kemudian ilmu ini berbeda artinya dengan ma’rifah. Walaupun terdapat persamaan tetapi adanya perbedaan diantara keduanya. Istilah ma’rifah itu memiliki makna yang lebih spesifik dan sempit sedangkan ilmu itu maknanya lebih ke umum.

Bila dilihat secara istilah atau penjabaran, Imam Ghazali menjelaskan ilmu itu sebagai pengetahuan akan sesuatu sebagaimana adanya. Tandanya adanya ilmu adalah sebuah pengakuan. Yaitu objek tidak lagi asing bagi seseorang sejak objek itu diakui pikiran seseorang. Maksudnya dalam penjelasan Imam Ghazali adalah disaat tadinya sesorang tidak mengetahui suatu hal atau tidak menerima sebuah informasi maka orang tersebut akan merasa asing dengan objek tersebut. Tetapi bila sudah mengetahui objek tersebut maka sudah tidak lagi menjadi asing dan diakui akan hal tersebut. Contohnya dulu orang beranggapan tidak bisa terbang tetapi setelah ditemukannya pesawat terbang maka anggapan tersebut terbantahkan dan anggapan orang ternyata bisa terbang menjadi hal yang tidak asing lagi.

Lalu misal contoh dalam hal keagamaan, katakanlah terdapat seseorang belum mendapatkan hidayah keislaman. Karena sudah bosan dengan kehidupan dunia, ia mencoba mencari kebenaran hidup hingga akhirnya ia mempelajari Islam (pengetahuan). Maka tidak berselang lama, ia memutuskan untuk menjadi muallaf. Maka yang tadinya ia asing dengan ajaran Islam tetapi setelah mengetahuinya ia menjadi tak asing lagi dengan ajaran Islam. Itulah penggambaran dari imam Ghazali terkait dengan ilmu.

1.2  Definisi Akhlak

Akhlak merupakan salah satu kosakata syariat Islam. Yang berarti hanyalah ada pada ajaran Islam saja istilah Akhlak disebutkan. Maka orang non muslim yang misalnya budi pekertinya baik tidak bisa disebutkan dengan orang berakhlak. Karena ia bukanlah beragama Islam.

Oleh karenanya bila dilihat dari segi Bahasa, akhlak berasal dari kata Bahasa Arab yaitu اخلق, yang disebut hasil dari proses yang baik. Kalau dilihat dari terusan kata akhlak tersebut, maka serumpun dengan penyebutan sang pencipta kita yaitu خالق , dan ciptaan Allah juga dalam Bahasa Arab disebut مخلوق. Maka kata akhlak tersebut berasal dari kata خلق yang artinya beribadah kepada Allah.

Dengan demikian akhlak adalah sifat-sifat mulia, perangai-perangai baik yang dihasilkan dari proses ibadah yang benar. Jadi bila orang tersebut mempunyai akhlak yang mulia bisa dipastikan dalam ibadah kepada Allah tentu juga baik seperti halnya dalam sholat itu mempunyai tujuan untuk mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar.

2.    Dalil-Dalil yang berkaitan dengan Ilmu dan Akhlak

2.1 Dalil Ilmu

Salah satu ayat familiar yang berkaitan dengan ilmu terdapat dalam Qs. Mujadalah ayat 11 yang berbunyi:

يرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ

Artinya:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”

Bila kita melihat dalil tersebut. Semakin mempertegas kedudukan orang berilmu dimata Islam. Karena orang berilmu disandingkan dengan keimanan maka derajat kita akan ditinggikan oleh Allah SWT. Ditinggikan derajat tersebut bisa diartikan mendapatkan kemuliaan di dunia seperti kedudukan di masyarakat maupun pekerjaannya dan kemuliaan disisi Allah berupa pahala, lebih-lebih mendapatkan Surganya Allah SWT. Saking pentingnya ilmu, bahkan dalam kitab Shahih Bukhari materi ilmu itu disajikan di bab ketiga. Maka sudah sewajarnya kita bagi kaum muslim terus berusaha untuk memperdalam ilmu baik ilmu keislaman maupun ilmu keduniawian. Karena begitu mulianya orang berilmu dimata Allah dan Islam.

Kemudian dilihat dari Hadist Nabi yang berkaitan dengan ilmu, ini juga merupakan salah satu hadist yang sangat familiar dikalangan kita semua yaitu hadist riwayat at-Tirmidzi yang berbunyi:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْعَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Artinya:

“Barangsiapa yang menempuh suatu perjalanan dalam rangka untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah berkumpul suatu kaum disalah satu masjid diantara masjid-masjid Allah, mereka membaca Kitabullah serta saling mempelajarinya kecuali akan turun kepada mereka ketenangan dan rahmat serta diliputi oleh para malaikat. Allah menyebut-nyebut mereka dihadapan para malaikat”

Jelas terang benderang bahwa seorang penuntut ilmu dalam perjalanannya setiap mencari sebuah ilmu maka dimudahkan jalannya menuju surga. Bahkan di hadist lain disebutkan apabila seorang yang sedang menuntut ilmu meninggal dunia maka ia bisa dikatakan matinya dalam keadaan syahid. Dalam artian bukan mati syahid seperti matinya orang yang sedang beperang di jalan Allah.

Diredaksi selanjutnya juga dikatakan bahwa disaat adanya perkumpulan majelis dalam mempelajari Qur’an maka majelis tersebut dikelilingi oleh para malaikat disertai diberinya suatu rahmat dan Allah SWT akan menyebut-nyebut mereka dihadapan para Malaikat. Dan itu merupakan salah satu anugerah yang besar diterima bagi penuntut ilmu, terutama ilmu mempelajari al-Qur’an.

2.2    Dalil Akhlak

Dalam suatu perkaderan Organisasi Kepemudaan atau biasa disebut OKP dan didalamnya termasuk bagian dari Oganisasi otonom Muhammadiyah, yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), selalu peserta kegiatan perkaderannya selalu mengahafal ayat berkaitan dengan akhlak. Yakni dalam Qs. Al Ahzab ayat 21 yang berbunyi:

لقدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا  

Artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW bagi kalian contoh yang baik bagi orang yang mengaharap pertemuan dengan Allah dan hari akhir dan mengingat Allah dengam zikri yang banyak”.

Rasulullah merupakan suri tauladan bagi Ummat Manusia. Jangankan saat sebelum diutus menjadi seorang Rasul dan Nabui. Bahkan sebelum itu, Rasulullah SAW sudah dipandang oleh kalangan kaum kafir Quraisy sebagai sosok yang teladan. Misalnya saja, seperti julukan al-Amiin (dapat dipercaya) yang sudah didapati sebelum masa kenabian Nabi Muhammad. Kemudian juga disaat nabi Muhammad muda juga pernah diminta tolong oleh para pembesar kaum kafir Quraisy untuk menentukan kabilah mana yang layak menaru batu hajar aswad disaat ada renovasi Baitullah (Ka’bah) pada masa sebelum kenabian. Hal ini menandakan adanya bentuk kepercayaan dari para pemuka kafir Quraisy karena melihat keteladanan beliau.

Kemudian, juga diperkuat dengan hadist nabi yaitu:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ  

Artinya:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Bukhari).

Karena hakikatnya di dunia ini tidak kekurangan orang-orang pintar melainkan kekurangan budi pekerti yang baik. Dan budi pekerti terbaik adalah akhlak yang memang hasil dari proses suatu ibadah kepada Allah. Rasulullah diturunkan di Mekkah yang pada saat itu sering disebut kaum jahilliyah (kaum yang bodoh). Hal itu tidak serta merta mengatasnamakan bangsa Arab adalah kaum bodoh secara intelektual melainkan kebodohannya diakibatkan karena perilaku yang begitu sangat menyimpang dari ajaran Allah. Padahal mereka sebenarnya masih ada rasa keimanan terhadap Allah tetapi mereka mengingkarinya dan lebih memilih sesuai dengan kehendak nafsunya. Salah satu contohnya adalah dengan membanggakan harga diri lelaki sehingga apabila anak yang baru lahir adalah seorang perempuan lantas ia akan membunuhnya atau menguburnya secara hidup-hidup.

3.    Penjelasan ADAB

Bila tadi kita membahas akhlak itu adalah suatu perangai, sifat baik dan sejenisnya yang dihasilkan dari proses ibadah, maka tentunya hal itu merupakan khusus hanya bagi kalangan msulim saja yang beriman kepada Allah. Karena sumber dari akhlaq adalah iman kepada Allah. Sedangkan adab juga merupakan suatu perangai yang baik, budi pekerti, sifat baik, kemuliaan dalam hal perilaku yang diperoleh melalui suatu pengajaran maupun pelatihan.

Disaat kita sekolah kita mengenal 5S, senyum, salam, sapa dll. Hal itu merupakan sebuah adab kepada sesama manusia. Maka orang beradab itu belum tentu berakhlak. Sedangkan orang yang berakhlak sudah pasti ia beradab. Sebagai contoh lainnya yaitu negara Jepang yang selalu mengedepankan adab saat pelajaran sekolah. Maka tidak mengherankan bila warganya yang disaat suatu daerah Jepang mengalami musibah besar tsunami, mereka masih sempat mengantri dan tidak berdesak-desakan disaat proses evakuasinya dan masih banyak contoh-contoh keteladanan masyarakatnya. Tentu mereka adalah orang yang beradab tetapi mereka bukanlah orang yang berakhlak dikarenakan mereka tidak memiliki rasa keimana kepada Allah dan tidak beribadah kepada- Nya walaupun mereka mempunyai perangai yang baik dalam kehidupannya.

4.    Ilmu dalam Pandangan Islam

Dalam menjalankan suatu aktivitas sehari-hari baik dalam proses bermasyarakat atau lebih-lebih dalam beribadah kepada Allah, wajib hukumnya harus sesuai dengan landasan ilmu. Karena ilmu merupakan dasar dalam menjalankan kehidupan bagi seorang muslim. Islam merupakan agama ilmu, disaat kita beribadah saja kita harus tahu apakah ibadah kita sudah tepat ataukah belum. Kemudian dalam menjalankan aktivitas keduniawian juga dilandasi oleh ilmu, seperti terkait makanan yang boleh dimakan dan tidak, cara berkomunikasi dengan sesama manusia, dan bahkan hal yang sepale seperti membersihkan tubuh juga terdapat penjelasan dalam Islam. Maka tidak mengherankan bahwa Islam adalah agama ilmu. Dalam Qs. Al-Isra ayat 36, Allah berfirman:

َلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya:

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Allah SWT secara jelas melarang umatnya untuk tidak mengikuti/melakukan hal yang kita tidak ketahui. Atau isitilah lain adalah dalam menjalankan sesuatu tidak boleh dijalankan tanpa adanya suatu ilmu. Karena di hari perhitungan kelak, pendengaran kita, penglihatan kita, dan hati nurani termasuk akal pikiran kita, semua itu akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Maka dari itulah pentingnya menuntut ilmu, baik ilmu Islam maupun ilmu umum yang berkaitan keduniawian.

4.1 Tauhid Juga Tidak Luput dengan Ilmu

Bahkan dalam ketauhidan atau biasa kita sebut dengan aqidah ini juga tidak bisa luput dari yang namanya ilmu. Tauhid ini saja yang merupakan pegangan awal dalam berislam juga harus didasari dengan ilmu. Sebagaimana dalam penggalan ayat 19 di Qs. Muhammad yang berbunyi:

فاعلم انه لااله الاالله

Artinya: “maka ketahuilah (mesti terdapat ilmu), bahwa tidak ada tuhan selain Allah ……

Maka maksud dalam ayat ini, adalah dalam berkeyakinan tentunya harus juga berdasarkan ilmu, jangan sampai dalam mempercayai Allah SWT bahwa dia adalah tuhan satu-satunya dengan sikap yang salah dan malah terjerumurus dengan kesyirikan. Bukankah telah banyak contoh kesyirikan-kesyirikan yang ada di kalangan muslim Indonesia, yang sebenarnya itu semua mempunyai niatan yang baik untuk mengungkapkan rasa syukur dll, akan tetapi malah cara pengungkapan syukur tersebut yang salah dan malah semakin menjauh akan ketauhidan. Dengan belajar ilmu tauhid, maka keyakinan akan Allah SWT hanyalah satu-satunya tuhan semakin kuat dan kokoh. Terlebih kita juga mempunyai landasan atau argumentasi untuk meyakinkan jiwa kita Cuma Allah SWT satu-satunya tuhan di dunia ini.

4.2    Perkataan Imam Syafii terkait Ilmu

Imam Syafii banyak sekali merangkai kata-kata mutiara yang berkaitan akan pentingnya sebuah ilmu. Ada satu perkataan mutiaranya, yang bahkan banyak dari kalangan muslim beranggapan dan penulis juga termasuk penulis, bahwa perkataan imam Syafii ini adalah sebuah hadist. Tetapi nyatanya adalah perkataan tersebut murni dari imam Syafii yang menggambarkan akan pentingnya sebuah ilmu.

Kata-kata mutiara tersebut yang berbunyi:

من اراد الدنيا فعليه بالعلم. ومن ارادالاخرة فعليه بالعلم

Artinya: “Siapa yang menginginkan dunia maka harus dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan akhirat maka harus dengan ilmu

Ya perkataan beliau tentu sangat benar sekali, karena beliau juga adalah salah satu 4 Imam madzhab, yang banyak diikuti oleh kalangan muslim dari berbagai penjuru dunia. Dalam penjelasan tersebut bahwa bila kita ingin menggapai dunia, ingin sukses dalam dunia, menjadi orang hebat maka dengan ilmu lah kita bisa menggapai hal tersebut. Sebagai contoh kedudukan di dunia selalu melandaskan seberapa banyak ilmu yang dipunyainya. Orang yang paham arsitek berkaitan bangun membangun gedung tentu kedudukannya lebih tinggi dibanding orang yang hanya tamatan SMA dan ia bekerja sebagai buruh karyawan. Dan masih banyak contoh lainnya.

Begitu juga bila kita menginginkan akhirat tentu dengan ilmu juga, tidak bisa kita mencapai surga tapi tidak berilmu. Bahkan yang lebih menakjubkan lagi, bahwa syarat dikatakan ia wajib melaksanakan syariat Islam adalah ia harus berakal, bila ternayata ia mengalami gangguan kejiwaan alias gila maka amalan perhitungannya terputus. Ia mau melakukan dosa ataupun kebaikan sekalipun, ia tidak akan mendapatkan dosa maupun pahala atas perbuatan tersebut. Dengan demikian yang harus kita siapkan adalah bekal ilmu untuk menggapai dunia sekaligus akhirat.

4.3    Tiga Alat dalam Mendapatkan sebuah ilmu

Dalam firman Allah, Allah SWT menjelaskan bagian-bagian tubuh yang diperuntukkan oleh manusia sebagai sumber masuk ilmu pengetahuan, seperti didalam Qs. Al-Isro ayat 36:

َلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولً

 

Artinya:

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”

Ketiga bagian tubuh tersebut yang dijadikan akses oleh manusia untuk mendapatkan suatu pengetahuan, yaitu Telinga, Mata dan Hati/pikiran.

-          Pendengaran (Telinga)

Merupakan akses pertama manusia dalam mencari sumber pengetahuan. Oleh karenanya disaat manusia bahkan belum lahir masih ada dalam kandungan seorang ibu, sang ibu dianjurkan untuk bersenandung al Qur’an selama dalam proses hamil, agar bayi tersebut membawa keberkahan dari bacaan Qur’an tersebut. Setelah lahir pun demikian, langsung diadzankan oleh bapaknya agar selama menjalin kehidupan bayi tersebut tidak lupa bahwa tujuan ke dunia ini hanyalah untuk beribadah semata.

Maka tidak mengherankan di Indonesia ini ada seorang anak kecil berusia kurang lebih 7 tahun sudah bisa mengahafal Qur’an 30 juz sedang ia dalam keadaan matanya tidak bisa melihat atau buta. Kemudian hal itu menjadi viral sekaligus menjadi cambuk bagi kita yang sudah dianugerahi oleh Allah SWT anggota tubuh yang lengkap tetapi kita tidak atau belum bisa menghafal Qur’an.

-          Penglihatan (mata)

Apa-apa yang kita lihat maka itu akan menjadi ilmu bagi kita. Oleh karenanya al Qur’an mengarahkan kita sebagai manusia untuk senantiasa melihat hal-hal yang baik untuk mendapatkan informasi yang positif. Begitu juga sebaliknya apabila kita sebagai manusia melihat kebanyakan hal-hal yang negatif, maka tentu pikiran kita juga akan senantiasa selalu mengarah kearah negatif.

-          Akal Pikiran/hati

Setiap hal yang dicerna oleh pikiran kita maka itu akan menjadi sebuah pengetahuan bagi kita. Oleh karenanya kita harus senantiasa menjaga pikiran kita dari hal-hal negatif seperti menghindar dari yang namanya penyakit hati. Karena bila terdampak, maka kita tidak bisa berpikir dengan jernih dan hanya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat saja. Sehingga pengetahuan-pengetahuan yang positif tidak dicerna dengan baik. Dan hanya akan menjadi angin lalu saja.

5.    Adab dan Akhlak

5.1 Mendahulukan Adab Dibandingkan Ilmu

Dahulu ulama salaf selalu mendahulukan belajar adab terlebih dahulu dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Seperti halnya seorang ulama salaf pada masa itu, belajar adab selama kurang lebih 30 tahun baru kemudian ia belajar ilmu-ilmu lainnya salama 20 tahun. Bahkan dalam pembelajaran adab lebih memakan waktu disbanding dengan ilmu-lmu lainnya.

Kemudian tentunya kita tidak asing lagi dengan seorang alim ulama Imam Nawawi yang menulis kitab sangat popular sekali yaitu kitab al-Arbain dan Riyadus Shalihin. Itu semua merupakan karangan beliau yang berkaitan dengan ilmu hadist dalam aplikasi ke kehidupan sehari-hari. Tetapi tahukah?, bahwa sebelum menulis karya-karya tersebut, Imam Nawawi menulis terlebih dahulu kita at-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an yang merupakan kitab tentang adab. Karena untuk bisa memahami sebuah ilmu pengetahuan, tentunya kita harus benar terlebih dahulu secara adab agar ilmu kita berkah dan diridhoi oleh Allah SWT.

Lalu bila kita melihat kedalam negeri kita, seorang ulama sekaligus pendiri salah satu organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia (NU) yaitu KH. Hasyim Asyari juga menulis kitab bertemakan adab, yaitu al-Alim wal Muta’allim yang berisikan tentang keutamaan ilmu, belajar dan mengajar serta etika seorang murid kepada ilmu, kepada dirinya sendiri dan tentunya kepada gurunya.

Maka bila saja ulama-ulama terdahulu mempelajari adab begitu tekun dan serta memunculkan karya berkaitan adab, tentunya kita sekarang di zaman modern harusnya lebih lagi dalam mempelajari suatu adab karena tentu saat ini telah merajalela ketimpangan-ketimpangan yang ada sehingga harus bisa dihilangkan dengan keadaban suatu bangsa itu sendiri.

5.2    Puncak Ilmu Adalah Akhlak

Ilmu dengan akhlak maka menjadikan ilmu tersebut menjadi suatu kebaikan, tetapi bila tanpa akhlak ilmu tersebut akan menjadi suatu kemudharatan bagi dunia ini. Maka puncak tertinggi suatu ilmu adalah akhlak. Karena dengan akhlak maka ilmu tersebut akan menjauh dari kemudharatan dan akan mendekatkan ke suatu kebaikan. Serta kebermanfaatanya akan dirasakan baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karenanya Rasulullah itu diturunkan ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. Karena pada dasarnya manusia kebanyakan tidaklah kekurangan akan pengetahuan tetapi manusia kebanyakan adalah kekurangan yang namanya akhlak maupun adab. Ditandai dengan sikap perilaku yang begitu buruk perangainya. Seperti saling bunuh membunuh, perusak alam dan sebagianya-sebagainya.

Bahkan dalam Hadist, Rasulullah SAW pernah berkata: “Sebaik-baik kalian (Manusia) adalah yang paling baik akhlaknya (HR. Bukhari: 5569).

Kemudian perumpaan orang yang berakhlak baik adalah seperti lentera yang menyala terang benderang. Dia akan selalu menghangatkan dan menentramkan orang-orang yang berada didekatnya. Dan dia akan selalu memberikan pengaruh positif bagi lingkungan yang ditempati bahkan lingkungan yang disinggahinya demikian.

Bila akhlak adalah lenteranya maka ilmu adalah gagang dari lentera tersebut. Dengan dia berakhlak sekaligus berilmu maka pengaruh ketentramannya begitu luas tidak hanya kepada satu titik saja dan bisa menerangi tempat-tempat lainnya. Dengan bersinergi keduanya akan mempunyai daya jelajah yang lebih luas dan tentu kegunaan lentera tersebut akan semakin banyak. Karena bisa menyalakan sumber-sumber cahaya lainnya.

6.    Contoh-Contoh Adab Yang Baik Bagi seorang Penuntut Ilmu dari Karya Ulama-Ulama Terkenal

6.1 Kitab At Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur’an

Dalam kitab karya imam Nawawi menjelaskan bahwa tujuan utama dalam menuntut ilmu adalah mencari ridho Allah dan mendapatkan ilmu bukan untuk hanya sekedar kesenangan duniawi. Kemudian saat hendak menuntut ilmu dalam keadaan bersih baik tubuhnya maupun pakaian. Hal itu untuk menandakan keseriusan dalam menuntut ilmu.

Selain itu cara duduk juga harus diperhatikan sebagai rasa sopan santun seorang murid terhadap guru. Lalu sebagai seorang penuntut ilmu diharuskan untuk gemar dan tekun dalam menuntut ilmu dan bisa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Ditambah juga harus mempunyai jiwa yang selalu merasa tidak puas dengan ilmu yang diperolehnya.

6.2    Kitab Adab Al Alim wal Mutaalim

Sebagai seorang murid ada beberapa etika yang harus dimiliki agar mempunyai adab yang baik

Pertama, Mematuhi segala perintah guru.

Kedua, Memandang guru dengan pandangan mulia

Ketiga, Tidak melupakan jasa-jasa guru

Keempat, Duduk dengan penuh sopan santun

Kelima, Berbicara yang baik kepada guru

Keenam, Mendengarkan dengan seksama penjelasan guru

7.    Penutup

Demikianlah pentingnya adab dan akhlak dalam mencari ilmu. Agar tidak hanya tercipta kemajuan dalam bentuk fisik saja di dunia ini tetapi melainkan perasaan saling menghormati dan menghargai sesama manusia juga terus dilestarikan. Karena secara hakikat manusia adalah makhluk sosial yang sudah seyogyanya mengedepankan nilai-nilai dibandingkan hanya keindahan fisik semata. Bagaimana agar nilai-nilai baik itu tetap akan ada dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman, yaitu dengan cara menuntut ilmu yang berkaitan dengan adab serta menjadi seorang yang berakhlak dengan mengambil esensi dari setiap ibadahnya dan diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari. Maka dunia ini akan lebih beradab karena keilmuan yang sekarang begitu maju dan pesat diimbangi oleh pemahaman akan keadaban.

Wallahu alam

-Helmi J- 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Judul Memang Selalu Menarik

PESTA DAGING