AKU DAN DEMO
AKU DAN DEMO
Oleh Ihsan Helmi Jauhari
Banyak pandangan masyarakat awam atau dari kalangan Mahasiswa baik di sekeliling penulis maupun pada umum nya bertanya-tanya berkaitan keuntungan/manfaat mengikuti aksi demo. Karena mereka menilai demo tersebut tidak ada manfaatnya dan seakan percuma alias sia-sia. Melihat dalam setiap demo di negeri ini berakhir dengan ketidak ada hasil yang jelas dan bahkan yang lebih parahnya para pejabat publik seperti DPR, Pemerintah, MK dan lainnya seperti mengabaikan aspirasi-aspirasi pendemo yang tentunya itu merupakan keresahan masyarakat bawah. Lalu ada juga anggapan-anggapan bahwa demo tersebut ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan oknum tertentu dan juga pendemo-pendemo bayaran juga marak dalam setiap demonya.
Izinkanlah penulis di tulisan ini untuk melihat setiap aksi demo dengan sudut pandang berbeda. Dan kita akan abaikan terlebih dahulu pemikiran-pemikaran diatas. Karena sejatinya persepsi seseorang itu terletak pada sudut pandang ia memaknai suatu hal. Bila mengarahkan ke suatu hal negatif maka tentu negatif pula pemikirannya, begitu juga sebaliknya.
“Aku membutuhkan demo” adalah sudut pandang yang penulis gunakan dalam tulisan ini. Penulis dalam mengikuti demo tersebut merupakan kebutuhan bagi penulis. Setiap mengikuti demo, bukanlah mengincar eksistensi belaka, bukanlah agar dilihat menjadi aktivis sejati, bukanlah kepingin menjadi orator, atau bernyanyi dengan syahdu lagu-lagu khas perjuangan, maupun hanya sekedar meneriakan yel-yel atau jargon perjuangan semata.
Tetapi penulis mengikuti berbagai aksi demo ini karena memang membutuhkan nuansa demo tersebut untuk bisa bagaimana menatap masa depan nanti. Karena hampir sekitar 30% dari harapan cita-cita penulis adalah menjadi pejabat publik tersebut khususnya di kepemerintahan. Oleh karenanya penulis saat mengikuti demo lebih difokuskan dalam melihat suasana aksi demo dengan penuh penghayatan dan pengamatan.
Bagaimana penulis melihat para pendemo baik Mahasiswa, Pemuda, Buruh, Petani, bapak-bapak ibu-ibu, para Ulama dan lainnya penuh semangat mengikuti aksi demi menyuarakan kegelisahan sekaligus aspirasi yang berasal dari masyarakat lapisan bawah kepada pejabat publik yang entah mereka mendengar atau tidak. Bagaimana perjuangan mereka datang ke aksi demo tersebut dengan ancaman pemecatan, drop out dan hilangnya penghasilan yang diakibatkan karena mereka lebih mementingkan demo dibanding pekerjaannya, perkuliahannya maupun bisnisnya. Bagaimana mereka semangat sekali meneriakkan jargon-jargon perjuangan yang hampir setiap menit digaungkannya. Bagaimana antusias mereka saat demo tidak luntur dan tidak gentar dengan ancaman tembakan water canon maupun gas air mata yang diberikan oleh aparat kepolisian. Bagaimana mereka saling berbagi antar satu sama lain dan sudah menganggap mereka saling bersaudara seperjuangan. Bagaimana melihat kemarahan bercampur kekecewaan yang dituangkan mereka saat aksi demo tersebut dengan kebijakan-kebijakan pejabat publik yang merugikan rakyat.
Lalu Penulis melihat ketulusan-ketulusan para orator yang menyuarakan aspirasi penolakan-penolakan kebijakan yang merugikan rakyatnya dan mengkritisi ketidak becusan pejabat publik mengurus persoalan-persoalan negeri. Serta tidak lelah membakar semangat para pendemo agar perjuangan mereka tuntas hingga bisa menyelesaikan solusi dan tidak berhenti ditengah jalan tanpa kejelasan. Bahkan ada sebagian orator membuat hati penulis bergetar mendengarkan orasinya yang penuh ketulusan disertai kemarahan dalam diri orator tersebut atas aspirasi yang disuarakannya.
Penulis juga melihat aparat kepolisian yang sebenarnya mereka tidak mau menyakiti para pendemo akan tetapi mereka terpaksa melakukannya dikarenakan sebagai bawahan tentunya harus patuh terhadap atasan. Bila tidak maka hukumannya adalah pemecatan bagi siapa saja yang membangkang. Didalam hati lubuk terdalam para aparat kepolisian yang berjaga saat demo berlangsung, kemungkinan mendukung para pendemo untuk terus berjuang menyuarakan tegaknya keadilan bagi rakyat. Karena penulis menilai, kebanyakan orang saat melihat adanya aksi demo mereka mendoakan yang terbaik bagi pendemo dan mendukung apa yang diperjuangkan pendemo tersebut.
Kemudian penulis juga melihat dibalik aksi demo terdapat keberkahan tersendiri bagi para Pedagang kaki Lima (PKL), baik penjual makanan berat, minuman hingga penjual rokok mendapat keberkahan dari demo tersebut. Penulis melihat mereka begitu semangat dan senang dalam berjualan di area demo. Mengingat didepan mata ada mereka kedatangan rezeki nomplok. Dan tidak ada rasa khawatir bila para pendemo menjarah barang jualan mereka. Tidak ada rasa takut bila terjadinya kericuhan dalam aksi tersebut. Para pedangang tersebut seperti sudah percaya bahwa mereka sangatlah aman berjualan di area pendemo.
Hal ini membuktikan bahwa anggapan bahwa pendemo adalah kaum barbar dan sebagainya tidaklah seratus persen terbukti benar. Karena mereka para pendemo bisa menilai yang seharusnya dilampiaskan kemarahan mereka bukanlah para pedagang melainkan para pembuat kebijakan yang meresahkanlah yang seharusnya dilampiaskan kemarahan mereka. Dan tentu tidak berhak juga mereka menjarah dagangan mereka. Karena mereka sadar bahwa yang harus dilindungi adalah masyarakat bawah bukannya para investor-investor asing maupun aseng dan juga para cukong. Dengan menyaksikan itu semua penulis merasa bersyukur sekali dengan melihat para pedagang senang karena dagangannya laris manis.
Demikianlah sudut pandang menulis melihat demo dari sisi pengamatan. Maka dengan menyaksikan disertai dengan penghayatan mendalam, semakin memperkokoh keyakinan dalam diri penulis akan pentingnya suatu kebijakan berlandaskan kepentingan masyarakat khususnya masyarakat bawah. Karena sejatinya merekalah yang perlu diperhatikan dan dilindungi oleh kebijakan bukan melainkan malah pemangku kepentingan saja dan para cukong baik aseng maupun asing. Itu semua harus penulis resapi agar di masa depan nanti penulis menjadi sang pembuat kebijakan, penulis bisa mengingat memori-memori bagaimana situasi demo yang sudah penulis jabarkan diatas.
Dan penulis semakin tahu lagi bagaimana terkait sudut pandang masyarakat bawah dalam setiap kebijakan-kebijakan negara yang dikeluarkan. Maka disaat penulis menjadi pejabat publik, penulis tidak akan acuh terhadap perjuangan para pendemo, karena penulis sudah merasakan bagaimana pahitnya diabaikan oleh pembuat kebijakan saat mengikuti demo sekarang. Apa yang kita rasakan, apa yang kita hadapi saat ini nanti dimasa yang akan datang tetap teringat memori itu, tetapi pertanyaannya apakah kita jujur dengan perasaan dan memori tersebut atau apakah perasaan dan memori tersebut kita khianati.
Salam Perjuangan!!!

Komentar
Posting Komentar