Mahasiswa dengan Segala Maknanya
SEHARUSNYA
YANG DIMILIKI MAHASISWA
Sekitar
dua minggu lalu kita dihebohkan dengan berita yang mungkin dilihat secara judul
tentunya sangat miris sekali dan gejolak untuk menghujat akan sangat tinggi
dikarenakan berita tersebut menyangkut kritikan tentang fasilitas hotel yang
telah disediakan oleh pemprov untuk para pejuang ahli medis dan tenaga medis.
Karena bagi kalangan masyarakat menilai bahwa fasilitas hotel tersbut adalah
setimpal dengan pengorbanan tenaga medis yang menyalamatkan bangsa Indonesia
dan khususnya masyarakat Jakarta yang terdampak maupun terindikasi virus Corona
ini.
Tetapi penulis tidak ingin membahas
untuk wilayah kontroversinya melainkan membahas secara sudut pandang penulis
sebagai Mahasisawa. Dan disini penulis menitikberatkan pada status Mahasiswa
itu tersebut. Yang mana dalam kejadian itu pasti subjek Mahasiswa tersebut
dikatakan sebagai aktivis. Dan juga dalam istilah lain dari mahasiswa sering
dinisbatkan sebagai agent of change (agen
perubahan) dan masih banyak lagi julukan-julukan lain yang disematkan didalam
diri Mahasiswa. Bahkan termasuk kata Maha itu sendiri juga merupakan sebuah
gelar yang kita miliki sebagai Mahasiswa.
Makna Mahasiswa
Kata Mahasiswa ini tentu punya arti dan
makna. Kadangkala arti tidak bisa menunjukkan makna dari kata tersebut. Begitu juga
dengan kata Mahasiswa. Bila kita melihat arti Mahasiswa dalam KBBI (Kamus Besar
Bahasa Indonesia) maka Mahasiswa adalah orang yang belajar di Perguruan Tinggi.
Definisi yang singkat dan padat tapi tidak bermakna. Karena memang demikian
Mahasiswa adalah seseorang yang belajar dalam ruang formal di dalam Perguruan
tinggi. Tetapi bagi penulis itu bukanlah suatu makna sebenarnya dalam diri
Mahasiswa.
Kemudian kita lihat dari sisi
terminologinya, maka Mahasiswa terdiri dari dua kata yaitu Maha dan siswa.
Siswa sesuai dengan Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Budaya) berasal dari
Bahasa Sansekerta “siya” yang artinya
adalah apapun yang anda katakana, saya menerimanya. Jadi bisa kita simpulkan
bahwa dalam kata siswa terdapat makna kepatuhan terhadap apapun yang guru
katakan ataupun yang guru perintahkan. Lalu untuk kata Maha juga diambil dari
Bahasa Sansekerta yang artinya adalah agung, atau bisa juga tinggi derajatnya
dan bahkan tidak ada yang lebih tinggi derajatnya daripada agung atau Maha
tersebut.
Dari penjabaran diatas bisa kita Tarik
kesimpulan bahwa sebagai Mahasiswa harus mempunyai sikap yang berbeda dengan
siswa karena dalam diri Mahasiswa disematkan kata maha yang berarti paling
tinggi derajatnya. Tidak bisa disejajarkan baik dalam status maupun sikap
dengan siswa secara umum. Bila siswa tadi dikatakan maknanya adalah kepatuhan
terhadap guru baik apa yang dikatakan maupun diperintahkan, maka Mahasiswa
harus lebih dari hanya sekedar patuh saja melainkan bisa juga dengan
mengungkapkan argumentasinya saat kita mempunyai pandangan yang berbeda
terhadap suatu pelajaran dan bahkan bisa juga untuk mengkritisi bila terdapat
kesalahan dalam kebijakan maupun penerapan metode belajarnya.
Sepatutnya dimiliki oleh Mahasiswa
Penulis pernah mendapatkan ilmu dari
seorang dosen yang memang secara beliau itu juga merupakan seorang aktivis dan
bahkan hingga sekarang beliau masih menjadi seorang aktivis di salah satu
organisasi masyarakat (Ormas) Islam terbesar di Dunia yaitu Muhammadiyah. Dalam
penuturannya beliau menyebutkan ada 4 hal yang harus dimiliki Mahasiswa agar tidak
disamakan dengan siswa. Keempatnya sebagai berikut:
1. Memiliki
jiwa mandiri
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), mandiri berarti dalam keadaan dapat berdiri sendiri, atau tidak
bergantung pada orang lain. Kemudian yang dimaksudkan Mahasiswa memiliki jiwa
mandiri adalah bagaimana seorang Mahasiswa dalam suatu pembelajaran baik itu
secara formal maupun non formal dituntut memiliki inisiatif dalam belajar tanpa
menunggu perintah atau intruksi dari dosen ataupun orang tua. Karena sebagai
mahasiwa itu sudah dianggap memiliki kedewasaan dalam menentukan pilihan di
masa depan ingin menjadi seperti apa. Sehingga dalam pembelajarannya harus
memliki keinginan dan inisiatif yang tinggi. Maka dari itu Mahasiswa itu
dituntut mandiri.
2. Memiliki
sikap skeptis (keragu-raguan)
Skeptisisme adalah paham yang memandang
sesuatu selalu tidak pasti (meragukan, mencurigakan). Kemudian dilihat dari
KKBI, skeptis adalah kurang percaya, ragu-ragu. Hal ini sangat penting dimiliki
oleh Mahasiswa karena dengan adanya sikap skeptis maka segala informasi atau
segala ilmu yang kita dapatkan akan selalu kita koreksi terlebih dahulu
kebenarannya. Dalam Islam juga diajarkan demikian, bahwa kita dalam mendapatkan
sebuah informasi harus bertabayyun terlebih dahulu. Dan sikap ini sangat berkolerasi
dengan jiwa mandiri karena dengan kita mempunyai inisiatif maka kita akan
mempunyai sikap keragu-raguan sehingga kita tidak lelah dan tidak bodoamatan
dalam mencari sebuah kebenaran tersebut
3. Berpikir
kritis
Menurut Siti Zubaidah (2010) berpikir
kritis dapat diartikan sebagai proses dan kemampuan yang digunakan untuk
memahami konsep, menerapkan, mensintesis dan mengevaluasi informasi yang
diperoleh atau suatu informasi yang dihasilkan. Maknanya adalah dalam berpikir
kritis, bila mendapatkan suatu informasi maka kita telusuri dulu segala macam
aspeknya baik dari konsep, tujuan ataupun hal-hal lainnya sehingga kita bisa
mengahsilkan suatu evaluasi atau kekurangan suatu informasi itu. Atau istilah
simple nya kita uji dulu sebuah informasi tersebut. Dalam hal ini informasi
maknanya luas, bisa diartikan juga sebuah pengetahuan, berita, karya tulisan,
kebijakan pemerintah dan lain-lain. Hal ini bisa kita dapati setelah kita
memliki sikap skeptic terlebih dahulu akan setiap hal informasi yang kita
dapati.
4. Selalu
mencari solusi
Solusi menurut KBBI artinya
penyelesaian, pemecahan masalah dan jalan keluar. Bila seorang Mahasiswa
mendaptkan suatu masalah maka ia sebenarnya telah menadapatkan sebuah
pembelajaran. Dan dalam pembelajaran tersebut hikmahnya adalah bagaimana kita
bisa menyelesaikan suatu persoalan tersebut. Kemudian saat kita menganalisis
dengan detail terhadap suatu informasi dan kita menemukan kesalahannya,
tentunya kita akan dilatih untuk berpikir bagaimana kita membenarkan sebuah
informasi tersebut. Maka tentunya kita sebagai Mahasiswa harus selalu mencari
solusi dalam setiap problemnya atau dalam setiap kritikan kita tersebut. Dan
ini adalah step atau langkah finish dalam menjadi layak menyebut diri kita
adalah Mahasiswa.
Keempat hal ini merupakan satu
kesinambungan antara satu dengan yang lainnya. Bagi penulis bila kita ingin
dikatakan layak menyandang status Mahasiswa maka harus memiliki
keempat-emaptnya tanpa mengesampingkan antara satu dengan yang laiinya. Dan
bahkan apabila ternyata kita tidak memiliki keempat-empatnya bagi penulis tidak
gelar Mahasiswa tersebut tidak ada esensinya sama sekali. Mungkin kalau kita
menggunakan istilah hukum, status Mahasiswa tersebut hanya berlaku secara de jure (Hukum/status) tetapi secara de facto (kenyataannya) tidak demikian.
Sekian
dan Terimakasih
Komentar
Posting Komentar