Gerakan Muhammadiyah hadapi Pandemi Covid-19

Gerakan Muhammadiyah hadapi Pandemi Covid-19


 

Muhammadiyah adalah salah satu organisasi masyarakat (Ormas) Islam terbesar di Indonesia yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah sudah lebih dari satu abad sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Dengan melihat sekarang ini perkembangan Muhammadiyah begitu pesat tetapi ciri khas yang ditanamkan sang pendiri tidak luntur dan bahkan dikembangkan menjadi lebih luas lagi ciri khas tersebut.

Lahir disaat Ketimpangan Luar Biasa Terjadi

Pada saat masa KH. Ahmad Dahlan muda, itu sedang terjadi kolonialisme oleh negara Belanda. Termasuk didaerah tempat beliau tinggal yaitu di Kauman Yogyakarta. Terlihat sekali didaerah sana terjadi ketimpangan yang luar biasa. Kemiskinan dan kemalaratan merupakan pemandangan sehari-sehari di nusantara kala itu. Belum lagi soal pendidikan yang hanya terjamah oleh para londo dan bangsawan saja yang memerolehnya sehingga kebodohan-kebodohan merajalela saat itu.

Tetapi pada kenyataannya umat Islam sebagai agama mayoritas saat itu tidak berdaya mengahadapi kolonialisasi Belanda tersebut. Ditambah didalam internal tubuh Islam Jawa sendiri mengalami penyakit-penyakit yang menyimpang dari ajaran Islam, yaitu istilah yang terkenal adalah penyakit TBC (takhayul, bid’ah dan khurafat) penyakit tersebut mengarahkan kepada kesyirikan dan kebodohan dalam umat Islam sehingga semakin menyulitkan untuk melawan penjajahan di bumi Nusantara.

Contohnya dalam penyakit itu adalah mengenai pemborosan harta, yang seharusnya uang atau bahan makanan tersebut bisa diberikan kepada orang-orang miskin tetapi masyarakat pada masa itu malah menjadikan bahan makan tersebut menjadi sesaji yang diberikan kepada suatu tempat keramat. Dan fenomena ini masih berlanjut hingga sekarang dengan dalih mengatasnamakan sebagai budaya Indonesia. Padahal dalam konteks ini lebih bermanfaat sesaji tersebut untuk  dibrikan ke orang-orang miskin. Karena mengingat pada saat itu kemiskinan dan kemelaratan sangat Nampak sekali di permukaan.

Dikarenakan demikian KH. Ahmad Dahlan muda selalu memikirkan bagaimana caranya menyadarkan masyarakat bahwa mereka tidak perlu lagi melakukan hal yang merugikan itu dan mengalihkan hal tersebut dengan membantu masyarakat agar terlepas dari jeratan kemiskinan. Hal inilah yang juga sebagai sebuah landasan mengapa KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sehingga diawal-awal mendirikannya, Muhammadiyah fokus mengampanyekan gerakan sosial membantu masyarakat kurang mampu dan memberikan pelayanan pendidikan sekaligus berdakwah ajaran Islam yang murni agar masyarakat Indonesia meninggalkan budaya-budaya sia-sia tersebut.

Semangat Surat al-Maun

Dikisahkan pula dalam perjalanan hidup KH. Ahmad Dahlan, beliau sering sekali mengajarkan secara terus menerus surat al-Maun kepada murid-muridnya sehingga mereka merasa bosan. Lalu mereka bertanya kepada KH. Ahmad Dahlan mengapa mereka hanya terus-terusan belajar surat al-Maun dan tidak bernajak ke surat lainnya.

Kemudian KH. Ahmad Dahlan menanyakan ke mereka apakah sudah diamalkannya surat al-Maun tersebut. Para murid menjawab bahwa mereka sudah mengamalkan dan bahkan sering membacakan surat al-Maun dalam shalatnya.

“Kalian sudah hafal surat al-Maun, tapi bukan itu yang saya maksud. Amalkan! Diamalkan, artinya dipraktekkan, dikerjakan! Rupanya, saudara-saudara belum mengamalkannya,” ucap KH. Ahmad Dahlan (Junus Salam, K.H. Ahmad Dahlan: Amal dan Perjuangannya: 2009)

Setelah itu KH. Ahmad Dahlan menyuruh mereka untuk berkeliling mencari orang miskin dan dibawanya pulang. Lalu dimandikan dengan sabun, diberi pakaian layak, diberi makan dan minum, dan disediakan tempat tidur yang layak. Kisah tersebut menggambarkan spirit teologi al-Maun yang sudah ditancapkan sejak dini dalam diri KH. Ahmad Dahlan dan diimplementasikan baik secara individu maupun secara persyarikatan. Itulah cikal bakal konsep teologi al-Maun yang dipopulerkan oleh Muhammadiyah.

Sementara Abdul Khamil dan Sony Bakhtiar dalam Dahsyatnya Memberi untuk negeri (2018) menjelaskan teologi al-Maun yang dijadikan KH. Ahmad Dahlan untuk bergerak membantu umat yang berada dalam kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Surat ini menjadi spirit untuk memancarkan energi untuk menggerakkan Muhammadiyah dalam mengangkat harkat martabat umat melalui bantuan-bantuan sosial dan pendidikan.

Maka tidak heran bila kita menyaksikan Muhammadiyah begitu konsisten dalam menitikberatkan pada pengentasan permasalahan sosial dan pendidikan dalam pergerakannya. Terbukti dengan banyaknya amal usaha Muhammadiyah dalam bidang sosial dan pendidikan. Seperti sekolah, panti asuhan, rumah sakit, lembaga amil zakat dan masih banyak lagi amal usaha Muhammadiyah lainnya.

Muhammadiyah adalah Gerakan Sosial

Dan sekarang ini dunia sedang mengalami pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyaknya masyarakat terdampak virus corona. Yang berbahaya dari virus ini bukan saja juga mematikan tetapi juga tingkat penyebaran virus ini tinggi. Oleh karenanya dibutuhkannya suatu pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah. Pencegahan dalam penyeberan virus corona ini agar tidak meluas lagi dampaknya adalah dengan cara memutus rantai penyebarannya. Dan cara yang paling efektif sampai saat ini adalah dengan cara pembatasan interaksi antar masyarakat atau istilah yang popular saat ini adalah social distancing. Di Indonesia dikenal dengan istilah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Sedangkan di dunia dikenal istilah Lockdown.

Dengan adanya kebijakan demikian tentunya menyebabkan masyarakat tidak bisa beraktivitas seperti sedia kala termasuk dalam hal pekerjaan atau mencari nafkah. Dan khusunya lagi pekerjaan-pekerjaan yang nonformal seperti tukang ojek online, pedagang kaki lima. Hal ini menyebabkan pemasukan mereka berkurang dan bahkan ada yang sampai tidak mempunyai penghasilan sama sekali akibat adanya kebijakan PSBB ini. Sehingga mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan dan untuk membayar tagihan seperti listrik juga tidak mampu.

Karenanya mereka-mereka ini disaat pandemi masih berlanjut, mereka disebut sebagai kaum mustad’afin (kaum lemah atau tertindas) dikarenakan mereka tidak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri sehingga mereka membutuhkan bantuan-bantuan baik dari pemerintah maupun nonpemerintahan seperti Muhammadiyah ini.

Melihat situasi tersebut tentunya Muhammadiyah bergerak dengan cepat untuk memberikan bantuan. Karena memang dasarnya Muhammadiyah itu bergerak dalam bidang sosial. Dan sudah sejak dulu dari awal didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah berkomitmen membantu Indonesia ini dari kemiskinan dan kemelaratan. Seperti yang penulis utarakan diatas. Dalam penanganan sosial yang seperti ini Muhammadiyah sejatinya sudah memiliki unsur yang lengkap dalam penangan saat pandemi ini. Mulai dari wadah penggalangan dana, Muhammadiyah mempunyai Lazismu. Kemudian untuk urusan penanganan medisnya, Muhammadiyah memiliki sekitar 20 Rumah sakit. Lalu untuk sebagai tanggap bencana atau relawan-relawan lapangan Muhammadiyah mempunyai MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center).

Kontribusi Muhammadiyah pada Masa Pandemi Covid-19

Untuk membantu pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19, dan sebagai bentuk kepedulian Muhammadiyah terhadap bangsa dan negara, Muhammadiyah membentuk satuan tim dengan nama Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) yang dibentuk pada tanggal 5 Maret 2020. Pembentukan MCCC ini merupakan upaya untuk memberikan edukasi secara medis kepada masyarakat dalam menangani penyebaran virus corona di pemukiman warga.

Dan juga untuk kesiapan-kesiapan medis lainnya sehingga meringankan beban pemerintah dalam melakukan penanganan medis terhadap pasien terjangkit virus corona. Termasuk didalamnya penyediaan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis dalam melindungi diri dari virus corona saat bertugas dan agar bisa maksimal dalam menangani pasien.

Selain itu, saat wabah virus corona ini semakin meluas dan bahkan sudah dikatakan pandemi, maka MDMC bersama Pemuda Muhammadiyah dengan gencar melakukan berbagai tindakan-tindakan nyata dalam memerangi virus corona khususnya di daerah-daerah pemukiman. Yaitu dengan menyemprotkan cairan disenfektan di Masjid, rumah ibadah lainnya, kampus, sekolah dan tentunya pemukiman warga. Kemudian juga memberikan masker dan hand sanitizer kepada masyarakat. Dan juga mendirikan posko MCCC diberbagai lokasi sebagai pusat edukasi dan informasi yang berkaitan dengan pandemi ini.

Sementara dalam urusan penggalangan dana untuk bantuan-bantuan medis dan sosial, tugas itu diberikan kepada Lazismu (Lembaga amil zakat Muhammadiyah) yang intens melakukan penggalangan dana atau juga penghimpunan dana yang mana nanti akan disalurkan kepada rumah sakit dan masyarakat yang membutuhkan. Dana yang terhimpun baik dari zakat, infaq, sedekah maupun wakaf akan disalurkan untuk bantuan medis, seperti pengadaan alat pelindung diri (APD), meningkatkan kapasitas bangsal atau ruangan di rumah sakit, dan sebagian diberikan kepada masyarakat paling rawan berupa penyediaan masker, hand sanitizer, maupun penyemprotan disenfektan.

Selain disalurkan untuk medis, Lazismu juga menyalurkan bantuan ke aspek sosial. Karena hal itulah yang saat ini paling dibutuhkan oleh masyarakat. Seperti di Jawa Timur Lazismu memberikan bantuan berupa ribuan makanan siap saji dalam kaleng kepada warga yang terdampak wabah di daerah sana. Kemudian Lazismu bekerjasama dengan DPP IMM membagikan sembako kepada orang-orang yang membutuhkan di daerah DKI Jakarta.

Demikian Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan dengan prinsip surat al-Maun membantu pemerintah dalam penanganan di masa pandemi Covid-19. Dan tentunya kedepannya Muhammadiyah tetap akan berkiontribusi untuk Indonesia khususnya dalam bidang sosial karena itu adalah sebagai hal dasar kebutuhan manusia dan juga diajarkan oleh agama bahwa sesama manusia harus memerhatikan manusia yang lain dan jangan sungkan untuk memberikan bantuan. Itulah spirit al-Maun yang sudah tertanam dala diri kader-kader Muhammadiyah.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Judul Memang Selalu Menarik

AKHLAK DALAM ILMU

PESTA DAGING